Digital Transformation
Edge Function
TL;DR: Edge function adalah kode kecil yang dijalankan di edge network milik CDN seperti Vercel, Cloudflare, atau Supabase, bukan di satu server pusat. Karena lokasinya dekat pengguna, latensi turun ke kisaran 30 sampai 80 ms untuk pengguna Indonesia, dibanding 200 sampai 400 ms jika request harus terbang ke region Singapura atau Frankfurt.
Apa itu Edge Function?
Edge function adalah fungsi serverless yang dieksekusi di lokasi paling dekat dengan pengguna di CDN. Berbeda dengan fungsi serverless tradisional yang berjalan di satu region pusat, edge function memanfaatkan jaringan global yang sudah dipakai untuk mengirim aset statis. Kode dijalankan di runtime ringan seperti V8 isolate, sehingga cold start hanya beberapa milidetik dibanding 200 sampai 1000 ms pada container Lambda biasa.
Analogi sederhana, jika API tradisional seperti gerai pusat di satu kota, edge function seperti booth-booth kecil yang dipasang di setiap pusat perbelanjaan. Pelanggan tidak perlu jauh-jauh, layanan dasar bisa selesai di booth terdekat.
Kapan Pakai Edge Function?
| Cocok untuk | Tidak cocok untuk |
|---|---|
| Auth check, redirect berbasis geo, A/B test | Query kompleks ke database |
| Personalisasi konten ringan | Pemrosesan file besar |
| Rate limit, bot detection | Job batch panjang |
| Header rewrite, image optimization edge | Workflow yang butuh state lokal |
Contoh penggunaan praktis: rewrite header untuk SEO, redirect pengguna Jakarta ke landing-page lokal, validasi token sebelum request masuk ke origin, sampai trigger webhook ringan.
Kenapa Penting?
Untuk pasar Indonesia, edge function memotong latensi yang biasanya menjadi penalti utama Time to First Byte. Pengaruhnya langsung ke Core Web Vitals, terutama LCP, dan ke conversion rate. Berdasarkan studi Akamai dan praktik industri, setiap 100 ms penambahan latensi bisa menurunkan konversi 1 sampai 2 persen pada e-commerce. Edge function juga lebih hemat biaya karena tidak perlu menjaga container besar selalu hidup di banyak region.
Pertanyaan Umum
Apa beda edge function dengan serverless biasa?
Serverless biasa berjalan di satu region pusat, edge function tersebar di puluhan node global. Cold start edge lebih cepat, tapi runtime lebih terbatas (umumnya hanya Web API standar, bukan Node.js penuh).
Apakah edge function bisa akses database?
Bisa, tapi sebaiknya pakai database yang punya read replica edge atau koneksi via HTTP seperti Supabase, Neon, atau Cloudflare D1. Koneksi TCP dari edge ke database tradisional akan menambah latensi yang justru menghapus keuntungan edge.
Apakah cocok untuk semua website?
Tidak. Untuk situs UMKM dengan trafik rendah, edge function biasanya overkill. Mulai dipertimbangkan saat trafik sudah lintas wilayah atau ketika SLA latency menjadi bagian dari pengalaman produk.
Istilah Terkait