Digital Marketing

Hick's Law (Hukum Hick)

Vito Atmo
Vito Atmo·5 Mei 2026·0 kali dibaca·3 min baca

TL;DR: Hick's Law adalah prinsip UX yang menyatakan waktu pengambilan keputusan pengguna meningkat secara logaritmik seiring bertambahnya jumlah pilihan. Untuk landing page dan menu navigasi, terlalu banyak opsi memperlambat konversi karena beban kognitif pengguna naik. Solusinya: kurangi pilihan, kelompokkan opsi, atau pakai progressive disclosure.

Apa itu Hick's Law?

Hick's Law (kadang disebut Hick-Hyman Law) dirumuskan tahun 1952 oleh William Edmund Hick dan Ray Hyman. Inti rumusnya: RT = a + b * log2(n) di mana RT adalah reaction time dan n adalah jumlah pilihan. Artinya, semakin banyak opsi yang dilihat pengguna sekaligus, semakin lama mereka memutuskan. Pengaruhnya tidak linier, tapi logaritmik, jadi penambahan dari 2 ke 4 opsi terasa lebih ringan dibanding dari 4 ke 8.

Dalam konteks website bisnis, hukum ini relevan untuk navigasi utama, pricing page, form, dan Sticky CTA. Contoh klasik: pricing page dengan 7 paket cenderung punya konversi lebih rendah dibanding 3 paket yang dirancang baik.

Cara Kerja di Praktik

SkenarioEfek
Menu navigasi 12 itemPengguna scanning lama, banyak yang bounce sebelum klik
Pricing 3 tierKeputusan cepat, recommended tier dapat klik terbanyak
Form pendaftaran 15 fieldDrop-off tinggi di tengah form
CTA tunggal di heroKonversi naik karena tidak ada distraksi

Hick's Law tidak berlaku absolut. Ketika pengguna sudah punya intent kuat (misal pencarian produk spesifik), mereka justru butuh banyak filter (lihat Faceted Navigation). Kuncinya: konteks niat pencarian. Halaman edukasi butuh pilihan terbatas, halaman katalog butuh filter kaya.

Kenapa Penting?

Untuk marketer dan pemilik bisnis di Indonesia, Hick's Law membantu menjawab pertanyaan praktis: berapa banyak paket harga yang ideal? Berapa item menu utama? Berapa CTA per halaman? Dari pengalaman menangani client seperti Atmo (LMS) dan Vetmo (pet care), pricing page dengan 3 tier cenderung mengonversi lebih baik dibanding 5 tier ketika audiens belum familiar dengan produk. Per April 2026, riset Nielsen Norman Group masih konsisten menunjukkan menu utama 5-7 item lebih efektif untuk navigasi B2C, kecuali pada situs e-commerce besar dengan kategori jelas.

Pertanyaan Umum

Apakah Hick's Law berarti semakin sedikit pilihan selalu lebih baik?

Tidak. Hick's Law berlaku ketika pengguna belum tahu pilihan mana yang relevan. Ketika niat sudah kuat dan butuh filter (e-commerce, katalog properti), banyak pilihan justru membantu. Kuncinya konteks niat.

Bagaimana cara mengurangi efek Hick's Law tanpa memotong fitur?

Pakai progressive disclosure: tampilkan pilihan utama dulu, sembunyikan yang lanjutan di balik klik. Contoh: form 3 step lebih baik dibanding 1 form panjang dengan 15 field.

Bagikan