Digital Transformation

Prompt Receipt

Vito Atmo
Vito Atmo·12 Mei 2026·0 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: Prompt Receipt adalah catatan terstruktur dari setiap permintaan ke model AI, mirip struk transaksi. Catatan ini berisi prompt input, output, nama model, jumlah token, biaya, dan timestamp. Penting untuk audit, debugging, dan kontrol kualitas konten AI.

Apa itu Prompt Receipt?

Prompt Receipt adalah artefak log yang dihasilkan setiap kali tim marketing memanggil LLM melalui LLM gateway atau aplikasi internal. Tujuannya menyediakan jejak audit lengkap supaya hasil bisa direproduksi dan dievaluasi. Konsep ini meminjam dari observability ala SRE dan menjadi praktik standar di tim yang serius pakai LLMOps.

Komponen Standar

FieldIsi
prompt_inputTeks asli yang dikirim
modelNama dan versi model (claude-opus-4-6)
outputHasil mentah dari model
tokens_in / tokens_outJumlah token konsumsi
cost_usdEstimasi biaya inferensi
timestampWaktu eksekusi
user_idSiapa yang memicu
eval_scoreSkor evals jika sudah dijalankan

Kenapa Penting?

Tanpa Prompt Receipt, tim tidak bisa menjawab pertanyaan dasar: "kenapa konten ini terbit?", "model mana yang dipakai?", "berapa biayanya?". Untuk marketer Indonesia yang bekerja di tim teregulasi (finansial, kesehatan), receipt jadi syarat compliance terhadap PDPL.

Pertanyaan Umum

Apakah Prompt Receipt sama dengan log biasa?

Tidak. Log biasa hanya catat error. Receipt terstruktur, lengkap dengan biaya dan output, sehingga bisa dipakai untuk audit dan analisis ROI.

Di mana sebaiknya disimpan?

Database append-only (Supabase, BigQuery) dengan retention 90-365 hari sesuai kebutuhan compliance.

Bagikan