Case Study

Studi Kasus Aris Setiawan: Restrukturisasi Landing Pakai AIDA Funnel Naikkan Konversi Konsultasi dari 1,4 ke 4,2 Persen di 2026

A
Admin·27 Mei 2026·0 kali dibaca·4 min baca
Studi Kasus Aris Setiawan: Restrukturisasi Landing Pakai AIDA Funnel Naikkan Konversi Konsultasi dari 1,4 ke 4,2 Persen di 2026

TL;DR: Landing page konsultasi Aris Setiawan awalnya menumpuk semua informasi dalam satu hero panjang. Setelah restrukturisasi memakai kerangka AIDA (Attention, Interest, Desire, Action), tingkat konversi formulir konsultasi naik dari 1,4 ke 4,2 persen dalam tiga bulan. Eksperimen ini berjalan Februari sampai April 2026 dengan trafik organik konstan sekitar 4.500 sesi per bulan.

Tidak semua landing yang ramai kunjungan menghasilkan booking. Itu masalah yang dihadapi Aris Setiawan, konsultan bisnis F&B yang dibantu Vito Atmo memperbaiki website-nya awal 2026. Trafik bagus, tapi formulir konsultasi sepi. Rasio klik tombol Hubungi tertahan di 1,4 persen, padahal industri sejenis biasanya di kisaran 3 sampai 5 persen.

Setelah audit dua sesi, ketahuan struktur halaman terlalu padat. Hero memuat 14 baris teks dengan delapan fitur sekaligus. Tidak ada jeda kognitif. Pengunjung overwhelmed sebelum sempat berpikir untuk booking. Solusinya tidak mahal, hanya pakai kerangka yang sudah berumur 128 tahun: AIDA Funnel.

Diagnosis Awal: Hero Menumpuk Semua

Hero awal Aris berisi headline tebal, lima manfaat bullet, dua logo media, tiga testimoni mini, dan satu tombol CTA paling bawah. Semua dalam satu viewport. Dari sesi rekaman Hotjar yang dibedah Vito Atmo, 67 persen pengunjung scroll cepat ke bawah tanpa membaca isi hero, lalu kembali ke atas tanpa klik. Pola ini khas overwhelmed user.

Heatmap juga menunjukkan tombol CTA di paling bawah hero hanya di-klik 0,8 persen pengunjung. Konversi total formulir 1,4 persen berasal mayoritas dari pengunjung yang scroll sampai testimoni di bagian bawah halaman, bukan dari hero.

Restrukturisasi Pakai Kerangka AIDA

Tahap AIDASection BaruTujuan
AttentionHero ringkas: headline + subhead + 1 CTAHentikan scroll cepat
InterestTiga manfaat bullet pendek dengan ikonBangun rasa ingin tahu
DesireStudi kasus klien F&B dengan angka konkretTumbuhkan keinginan
ActionCTA primer di tengah + form lead sederhanaTutup dengan booking

Hero diciutkan jadi satu kalimat headline plus satu kalimat subhead plus satu CTA. Logo media dipindah ke section terpisah sebagai social proof. Testimoni dipisah jadi dua section: satu setelah Interest untuk membangun brand awareness, satu sebelum CTA akhir untuk mengunci keputusan.

Detail prinsip persuasive design yang dipakai bisa dirujuk di riset Nielsen Norman tentang persuasion design patterns.

Eksperimen dan Cara Mengukur

Eksperimen dijalankan Februari sampai April 2026 dengan pembagian trafik 50:50 antara halaman lama dan baru. Total sesi yang masuk eksperimen 13.412 dengan rata-rata 4.500 per bulan. Konversi diukur sebagai pengunjung yang submit formulir konsultasi, bukan sekadar klik tombol.

Hasil per bulan:

  • Februari (halaman lama): 1,4 persen konversi, 21 booking.
  • Maret (halaman A/B): 2,7 persen konversi pada varian AIDA, 1,5 persen pada kontrol.
  • April (halaman baru fully rolled out): 4,2 persen konversi, 63 booking.

Selisih 21 booking ke 63 booking dalam tiga bulan setara nilai konsultasi sekitar 84 juta rupiah dengan asumsi rata-rata paket 2 juta. Catatan kerasnya, trafik datang dari satu campaign LinkedIn organik yang sama, jadi kualitas pengunjung relatif konstan.

Pertanyaan Umum

Apakah AIDA cocok untuk semua jenis landing?

Cocok untuk landing dengan tujuan tunggal seperti booking, registrasi, atau lead capture. Untuk landing produk e-commerce dengan banyak SKU, kerangka AIDA perlu dikombinasi dengan product grid yang dipilih.

Berapa lama eksperimen A/B harus jalan?

Praktik standar minimal 2 sampai 4 minggu untuk mencapai significance statistik. Pada kasus Aris, eksperimen 1 bulan sudah cukup karena trafik 4.500 sesi cukup besar.

Apakah harus pakai tool A/B testing berbayar?

Tidak wajib. Eksperimen Aris memakai Vercel Edge Middleware untuk split trafik dan Plausible untuk pelacakan, biaya 0 rupiah tambahan. Tool berbayar seperti VWO atau Optimizely cocok untuk skala enterprise.

Apakah hero yang ringkas selalu lebih baik?

Tidak selalu. Hero ringkas bekerja untuk pengunjung yang sudah punya konteks awal lewat iklan atau organic search. Untuk pengunjung yang sama sekali baru, hero butuh paragraf konteks sebelum CTA.

Penutup

AIDA terdengar usang, tapi prinsipnya tetap akurat untuk memandu mata pengunjung. Restrukturisasi landing Aris membuktikan satu hal: kerangka klasik tidak otomatis kuno, asal dipakai dengan disiplin per-section. Sebelum mencari framework baru, periksa apakah struktur dasar sudah jelas atau belum.

Bagikan

Artikel Terkait

#aida-funnel#landing-page#konversi#case-study#copywriting

Butuh website yang benar-benar bekerja?

Hubungi Vito untuk konsultasi gratis 15 menit.

WhatsApp Sekarang