Case Study

Studi Kasus Nalesha: Conversion Friction Audit di E-commerce Parfum 2026

Vito Atmo
Vito Atmo·20 Mei 2026·0 kali dibaca·3 min baca
Studi Kasus Nalesha: Conversion Friction Audit di E-commerce Parfum 2026

TL;DR: Audit Conversion Friction Score pada e-commerce parfum Nalesha menemukan bahwa satu langkah checkout, bukan halaman produk, adalah titik gesekan terbesar. Fokus perbaikan di langkah itu memberi peningkatan konversi yang lebih cepat dibanding redesign menyeluruh.

Saat membantu Nalesha, sebuah brand parfum lokal yang sebelumnya jadi case study di studi kasus Nalesha, satu pertanyaan tetap menggantung. Schema product sudah rapi, halaman produk cepat, tapi conversion rate masih datar. Audit Conversion Friction Score (CFS) menjadi langkah lanjutan untuk menjawab pertanyaan itu.

Artikel ini merangkum bagaimana Vito Atmo dan tim mengaudit funnel Nalesha pakai pendekatan CFS, plus catatan apa yang dipertahankan dan apa yang diperbaiki.

Konteks Awal

Nalesha menjual parfum lokal premium dengan rata-rata harga di kisaran menengah. Funnel utamanya terdiri dari halaman produk, halaman keranjang, halaman alamat, dan halaman pembayaran. Conversion rate dari kunjungan ke pembelian berada di kisaran 1,2 sampai 1,8 persen sepanjang awal 2026. Angka ini wajar untuk kategori parfum, tapi tim ingin mendekati 2,5 persen.

Menerapkan Conversion Friction Score

Implementasi CFS dijelaskan di glosarium conversion-friction-score. Untuk Nalesha, bobotnya disesuaikan:

SinyalBobot
Exit rate per langkah35%
Rage click & klik berulang25%
Waktu interaksi anomali20%
Form abandonment20%

Data dikumpulkan via Google Analytics 4 event-based funnel dan Microsoft Clarity untuk heatmap. Periode audit dua minggu, sampel sekitar dua belas ribu sesi. Lihat juga konsep funnel leak rate sebagai pelengkap.

Temuan Utama

LangkahCFSCatatan
Halaman produk28Aman, scroll-depth tinggi
Halaman keranjang41Rage click pada tombol kupon
Halaman alamat67Field "kelurahan" memicu abandonment
Halaman pembayaran35OK setelah perbaikan sebelumnya

Langkah alamat memuncak di skor 67. Penyebab utamanya, dropdown kelurahan yang lambat dimuat untuk pengguna di luar Jakarta. Pengguna mengetik manual, salah format, lalu meninggalkan halaman.

Yang Dikerjakan

Tiga perbaikan utama dijalankan dalam dua sprint:

  1. Mengganti dropdown kelurahan dengan field autocomplete cepat berbasis cache lokal.
  2. Memindahkan validasi kupon ke client-side supaya rage click pada keranjang berkurang.
  3. Menambah indikator progress 4-langkah di header funnel agar pengguna tahu sisa proses.

Tiga puluh hari setelah rilis, CFS langkah alamat turun ke 38. Conversion rate naik dari rata-rata 1,4 persen menjadi 2,1 persen. Angka ini bervariasi tergantung kanal akuisisi dan sample, tapi cukup signifikan untuk dianggap valid.

Pertanyaan Umum

Apakah perlu tools mahal untuk audit CFS?

Tidak. Kombinasi GA4 event-based funnel dan Microsoft Clarity sudah cukup untuk audit awal di e-commerce skala UMKM.

Berapa lama audit ideal?

Untuk situs dengan trafik moderat, dua minggu sudah memadai. Untuk trafik rendah, audit bisa dipanjangkan ke empat minggu agar sampel cukup.

Apakah hasil ini bisa direplikasi di kategori lain?

Bisa, asal bobot CFS disesuaikan. Kategori fesyen punya pola berbeda dari parfum, terutama soal field ukuran dan stok.

Penutup

Audit CFS bukan pengganti perbaikan UX menyeluruh. Tapi untuk tim kecil dengan resource terbatas, pendekatan ini membantu memprioritaskan langkah perbaikan dengan dampak terbesar terlebih dulu. Untuk referensi industri, panduan dasar Baymard Institute tetap menjadi rujukan utama soal friction di e-commerce.

Bagikan

Artikel Terkait

#conversion-friction-score#case-study#ecommerce#funnel-audit#nalesha

Butuh website yang benar-benar bekerja?

Hubungi Vito untuk konsultasi gratis 15 menit.

WhatsApp Sekarang