Digital Marketing

AIDA Model

Vito Atmo
Vito Atmo·9 Juni 2026·1 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: AIDA adalah kerangka copywriting dan funnel yang memandu calon pembeli lewat empat tahap: Attention (perhatian), Interest (minat), Desire (keinginan), dan Action (tindakan). Modelnya membantu marketer menyusun pesan secara berurutan agar pembaca bergerak dari sadar menjadi membeli.

Apa itu AIDA Model?

AIDA Model adalah salah satu kerangka komunikasi pemasaran tertua, dirumuskan oleh E. St. Elmo Lewis pada akhir abad ke-19. Modelnya memetakan langkah mental yang dilalui seseorang sebelum mengambil tindakan, dari pertama melihat iklan sampai menekan tombol beli. Anggap AIDA sebagai tangga: setiap anak tangga harus dilewati sebelum naik ke berikutnya.

Empat tahap itu memandu struktur banyak materi, mulai dari landing page sampai email kampanye. Tujuannya memastikan tidak ada celah, misalnya pesan yang menarik perhatian tapi gagal membangun keinginan.

Empat Tahap AIDA

TahapTujuanContoh elemen
AttentionMenangkap perhatianHeadline kuat, visual mencolok
InterestMembangun rasa ingin tahuManfaat relevan, data singkat
DesireMenumbuhkan keinginanBukti sosial, demonstrasi nilai
ActionMendorong tindakanCTA jelas, urgensi wajar

Kenapa Penting?

Bagi marketer Indonesia yang menulis halaman penjualan atau iklan, AIDA memberi kerangka agar pesan tidak lompat langsung ke "beli sekarang" tanpa membangun konteks. Modelnya sederhana, tapi tetap relevan di era digital karena mencerminkan psikologi dasar pengambilan keputusan. Banyak praktisi memadukannya dengan kerangka lain seperti PAS untuk variasi gaya copy.

Pertanyaan Umum

Apakah AIDA masih relevan di era digital?

Ya. Meski lahir untuk iklan cetak, urutan psikologisnya tetap berlaku di landing page, video, dan email. Yang berubah hanya format penyampaiannya.

Apa kelemahan AIDA?

AIDA mengasumsikan perjalanan linear, padahal pembeli modern sering melompat antartahap. Untuk produk kompleks, kerangka ini perlu dilengkapi pemetaan perjalanan yang lebih detail.

Bagikan