Digital Marketing

Below the Fold (Konten di Bawah Area Tampilan Awal)

Vito Atmo
Vito Atmo·12 Juni 2026·0 kali dibaca·3 min baca

TL;DR: Below the fold mengacu pada semua konten halaman web yang tidak langsung terlihat saat halaman pertama kali dimuat, sebelum pengguna melakukan scroll. Posisi konten relatif terhadap fold berdampak pada visibilitas, perilaku pengguna, dan prioritas loading yang berhubungan dengan Core Web Vitals.

Apa itu Below the Fold?

Istilah "below the fold" berasal dari industri surat kabar cetak, di mana halaman depan dilipat di bagian tengah dan konten di bawah lipatan tidak langsung terlihat saat koran dipajang. Dalam konteks web, below the fold mengacu pada bagian halaman yang berada di luar viewport awal pengguna, hanya terlihat setelah scrolling.

Kebalikannya adalah above the fold: area yang langsung terlihat tanpa scroll, yang secara tradisional dianggap paling bernilai untuk penempatan konten kritis seperti headline, CTA utama, dan gambar hero.

Mengapa Posisi Fold Bervariasi?

Berbeda dengan media cetak, "fold" di web tidak memiliki posisi tetap. Ukuran viewport berbeda antar perangkat:

PerangkatTinggi viewport umum
Desktop 1080p900-950px
Laptop 768p650-700px
Tablet700-900px
Mobile600-750px

Artinya, konten yang above the fold di desktop bisa jadi below the fold di mobile. Desain responsif dan pengujian di berbagai perangkat menjadi krusial untuk memastikan elemen kritis selalu terlihat di area yang tepat.

Implikasi untuk SEO dan Performa

Dalam konteks Core Web Vitals, konten above the fold mendapat prioritas loading lebih tinggi karena berkontribusi langsung ke LCP (Largest Contentful Paint). Elemen below the fold idealnya dimuat dengan teknik lazy loading: gambar, video, atau komponen berat yang belum perlu dirender saat halaman dibuka.

Di Next.js, gambar above the fold diberi atribut priority untuk preload, sementara gambar below the fold dibiarkan dengan lazy loading default. Pola ini mempercepat LCP tanpa mengorbankan konten di bagian bawah halaman.

Strategi Konten dan CTA

Tidak semua konten penting harus dipaksakan above the fold. Studi dari Nielsen Norman Group dan berbagai eksperimen UX menunjukkan bahwa pengguna modern sudah terbiasa scroll, terutama jika konten above the fold cukup menarik untuk mendorong mereka melanjutkan. Yang penting adalah:

  1. Letakkan value proposition utama dan CTA primer di above the fold.
  2. Gunakan visual hierarchy yang jelas untuk mengarahkan mata ke bawah.
  3. Konten panjang dan detail bisa ditempatkan below the fold tanpa khawatir tidak terbaca, asalkan opening-nya compelling.

Kenapa Penting?

Pemahaman tentang below the fold membantu dalam mengoptimalkan performa halaman, merencanakan hierarki konten yang efektif, dan memprioritaskan elemen mana yang butuh loading cepat. Bagi marketer dan developer, ini adalah titik pertemuan antara page speed, UX, dan strategi konversi.

Pertanyaan Umum

Apakah konten below the fold diindeks Google?

Ya, Google mengindeks seluruh konten halaman terlepas dari posisinya relatif terhadap fold. Namun Google memang memberi sedikit lebih banyak bobot pada konten yang berada lebih tinggi di halaman.

Apakah CTA harus selalu above the fold?

Tidak harus. CTA above the fold efektif untuk pengguna yang sudah siap bertindak. CTA di bawah konten penjelasan (below the fold) sering lebih efektif untuk produk atau jasa yang butuh penjelasan lebih dulu sebelum pengguna memutuskan.

Bagaimana cara mengecek apa yang terlihat above the fold di berbagai perangkat?

Gunakan DevTools Chrome dengan mode responsive (Ctrl+Shift+M) untuk melihat tampilan di ukuran viewport berbeda. PageSpeed Insights juga menampilkan screenshot viewport awal yang digunakan dalam penilaian LCP.

Bagikan