Digital Transformation

Burn Rate

Vito Atmo
Vito Atmo·3 September 2026·0 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: Burn rate adalah jumlah kas yang habis terpakai setiap bulan untuk operasional bisnis, terutama sebelum pendapatan stabil. Burn rate tinggi tanpa cash flow masuk yang seimbang mempercepat bisnis kehabisan modal sebelum mencapai break-even point.

Apa itu Burn Rate?

Burn rate paling sering dipakai di konteks startup, tapi berlaku juga untuk bisnis kecil yang baru mulai. Sederhananya: kalau modal awal Rp120 juta dan pengeluaran bulanan Rp20 juta tanpa pemasukan, burn rate-nya Rp20 juta per bulan, dan bisnis punya waktu (runway) sekitar 6 bulan sebelum kas habis.

Ada dua jenis: gross burn rate (total pengeluaran) dan net burn rate (pengeluaran dikurangi pendapatan yang sudah masuk).

Cara Menghitung Burn Rate

KomponenContoh
Kas awalRp120.000.000
Pengeluaran bulananRp20.000.000
Runway6 bulan

Rumus dasar: Runway = Kas tersedia dibagi Burn rate bulanan.

Kenapa Penting untuk Bisnis Digital?

Banyak pemilik MVP atau produk digital baru fokus ke fitur, tapi lupa memantau burn rate. Dalam pengalaman menangani proyek early-stage, burn rate yang tidak dipantau adalah alasan umum bisnis kehabisan napas sebelum sempat validasi produk ke pasar. Idealnya, burn rate ditinjau tiap bulan, bukan tiap kuartal.

Pertanyaan Umum

Berapa burn rate yang dianggap sehat?

Tidak ada angka baku. Yang penting runway cukup panjang, umumnya 12-18 bulan, untuk mencapai milestone berikutnya, entah pendapatan stabil atau putaran modal baru.

Apa beda burn rate dan cash flow negatif?

Burn rate mengukur kecepatan kas berkurang, sedangkan cash flow negatif adalah kondisi saat pengeluaran melebihi pemasukan dalam periode tertentu.

Bagikan