Digital Transformation

Jakobs Law (Hukum Jakob)

Jakobs Law adalah prinsip UX dari Jakob Nielsen yang menyatakan pengguna lebih suka website Anda bekerja sama seperti website lain yang sudah biasa mereka pakai.

Vito Atmo
Vito Atmo·3 Mei 2026·0 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: Jakobs Law adalah prinsip UX dari Jakob Nielsen yang menyatakan pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di website lain, jadi mereka berharap website Anda bekerja sama seperti website yang sudah mereka kenal. Inovasi pola interaksi yang terlalu jauh dari konvensi biasanya menurunkan konversi karena meningkatkan beban belajar pengguna.

Apa itu Jakobs Law?

Jakobs Law dirumuskan oleh Jakob Nielsen, salah satu pendiri Nielsen Norman Group. Inti hukumnya: pengguna tidak datang ke website Anda dengan kepala kosong, mereka datang membawa ekspektasi dari ratusan website lain yang sudah mereka pakai sehari-hari. Ekspektasi itu mencakup posisi keranjang belanja di kanan atas, logo yang bisa diklik untuk pulang ke beranda, dan navigasi utama di bagian header.

Konsekuensi praktisnya, mengikuti konvensi UX yang sudah mapan adalah strategi default yang aman. Penyimpangan dari konvensi harus dibayar dengan keunggulan fungsional yang jelas, bukan sekadar keinginan untuk tampil beda. Untuk dasar pengalaman pengguna yang konsisten, konvensi ini lebih penting dari estetika.

Konvensi yang Wajib Dihormati

ElemenKonvensi StandarRisiko Jika Dilanggar
LogoKiri atas, klik ke berandaPengguna bingung cara kembali
KeranjangKanan atas dengan ikon keretaDrop-off di funnel checkout
LoginKanan atasUser pikir akun tidak ada
Tombol closeKanan atas modal/popupFrustrasi, langsung tutup tab
Hamburger menuKanan atau kiri atas mobileNavigasi tidak ditemukan

Kenapa Penting?

Untuk pasar Indonesia, Jakobs Law sangat relevan karena mayoritas pengguna sudah familiar dengan pola Tokopedia, Shopee, dan Gojek. Website bisnis baru yang melawan konvensi ini akan punya kurva belajar yang menyakitkan. Praktik standar di industri menunjukkan, mengikuti pola UX populer dapat memangkas waktu belajar pengguna 30-50% dibanding desain inovatif yang belum teruji.

Pertanyaan Umum

Apakah Jakobs Law berarti tidak boleh inovasi sama sekali?

Tidak. Boleh inovasi, tapi pada lapisan yang tepat. Inovasi sebaiknya di konten, fitur, atau personalisasi, bukan di posisi tombol dasar. Aturan praktis dari Nielsen Norman Group, jika 5 dari 7 kompetitor melakukannya, ikuti.

Bagaimana mengukur apakah saya melanggar Jakobs Law?

Lakukan tes 5 detik dengan pengguna baru. Jika mereka tidak bisa menemukan elemen utama (logo, navigasi, CTA) dalam 5 detik, kemungkinan besar Anda melanggar konvensi.

Bagikan