Digital Marketing

Sunk Cost Fallacy (Bias Biaya Hangus)

Vito Atmo
Vito Atmo·3 Mei 2026·0 kali dibaca·3 min baca

TL;DR: Sunk Cost Fallacy adalah bias kognitif yang membuat seseorang sulit berhenti dari pilihan yang sebenarnya merugikan, karena merasa biaya yang sudah dikeluarkan akan sia-sia. Dalam digital marketing, bias ini relevan baik di sisi pengguna (retensi langganan) maupun di sisi marketer (mempertahankan kampanye yang gagal).

Apa itu Sunk Cost Fallacy?

Sunk Cost Fallacy, atau bias biaya hangus, adalah kecenderungan untuk meneruskan keputusan berdasarkan investasi masa lalu yang tidak bisa dipulihkan, alih-alih mengevaluasi manfaat ke depan. Konsep ini diformalkan dalam ekonomi perilaku dan banyak dibahas dalam riset Daniel Kahneman serta Amos Tversky tentang loss aversion. Di konteks SaaS Indonesia, bias ini muncul ketika pengguna enggan membatalkan langganan tahunan walau hampir tidak memakai, atau ketika tim marketing memaksakan kampanye iklan yang sudah jelas tidak berperforma karena anggaran sudah dipakai banyak.

Cara Sunk Cost Muncul di Produk Digital

Pola sunk cost di produk digital biasanya muncul dalam beberapa bentuk berikut.

KonteksContohImplikasi
Subscription tahunanPengguna sudah bayar 12 bulan di mukaKecenderungan retain meski pemakaian rendah
Onboarding panjangAkun marketplace yang butuh isi profil 8 langkahPengguna meneruskan walau friksi tinggi
Loyalty programPoin terkumpul di e-commerceSulit pindah ke kompetitor
Marketing campaignAnggaran iklan sudah cair separuhTim sungkan menghentikan eksekusi yang gagal

Bias ini sering disalahgunakan dalam scarcity principle bila dikombinasikan dengan ancaman kehilangan progres, sehingga marketer perlu hati-hati supaya tidak masuk teritori dark pattern.

Kenapa Penting bagi Marketer Indonesia?

Bagi marketer, mengenali bias ini punya dua sisi. Sisi pertama, sebagai pelindung diri saat mengevaluasi performa kampanye. Aturan praktis yang sehat adalah menetapkan stop-loss di awal, misalnya hentikan kampanye jika cost per lead melebihi 130 persen target setelah dua minggu. Sisi kedua, sebagai pertimbangan etis. Strategi retensi yang sengaja menumpuk progress hanya untuk menjebak pengguna akan menurunkan kepercayaan jangka panjang. Praktik yang lebih sehat adalah memberi notifikasi pemakaian rendah dan pause option, seperti yang dilakukan beberapa platform fintech Indonesia.

Pertanyaan Umum

Apa beda Sunk Cost Fallacy dengan Loss Aversion?

Loss Aversion adalah aversi umum terhadap kehilangan. Sunk Cost Fallacy adalah penerapannya pada keputusan yang seharusnya dilihat ke depan, bukan ke belakang.

Bagaimana cara melepaskan diri dari bias ini?

Tetapkan kriteria stop-loss sebelum mulai, ulas berdasarkan data terbaru, dan ajak pihak ketiga yang netral untuk menilai keputusan ulang.

Bagikan