Case Study

Studi Kasus Nalesha: Pakai Protected Audience API Pertahankan ROAS Remarketing Parfum 78 Persen Setelah Cookie Mati 2026

Vito Atmo
Vito Atmo·26 Mei 2026·0 kali dibaca·5 min baca
Studi Kasus Nalesha: Pakai Protected Audience API Pertahankan ROAS Remarketing Parfum 78 Persen Setelah Cookie Mati 2026

TL;DR: Setelah Chrome mematikan cookie pihak ketiga global pada Q1 2026, kampanye remarketing Nalesha sempat anjlok 47 persen. Migrasi ke Protected Audience API plus penguatan first-party data berhasil mempertahankan 78 persen ROAS baseline dalam 10 minggu. Artikel ini merinci strategi, struktur teknis, dan hasil terukur.

Awal 2026, tim Nalesha (e-commerce parfum lokal yang saya bantu sejak 2024) mengalami penurunan tajam performa remarketing Meta dan Google Ads. ROAS turun dari 4,2 ke 2,2 dalam 3 minggu. Penyebab utama: Chrome menyelesaikan deprecation cookie pihak ketiga untuk seluruh basis pengguna, bukan lagi sample 1 persen.

Saya memutuskan migrasi penuh ke Protected Audience API untuk on-device remarketing, dikombinasikan dengan penguatan first-party data lewat customer data platform. Setelah 10 minggu, ROAS pulih ke 3,3 (sekitar 78 persen baseline). Artikel ini bahas keputusan strategis dan teknis di baliknya.

Konteks Sebelum Migrasi

Nalesha menjual parfum lokal dengan rata-rata order value sekitar Rp 380 ribu. Kanal utama: Meta Ads (60 persen budget) dan Google Ads (35 persen). Remarketing menyumbang 32 persen revenue tahun 2025. Funnel: awareness via TikTok organic, consideration via Meta Ads, conversion via remarketing 7 hari. Database: PostgreSQL di Supabase, web stack Next.js 15.

Per Januari 2026, audience custom di Meta dan Google Ads anjlok size 60-70 persen karena cookie pihak ketiga mati. Reach kampanye remarketing turun proporsional. Frequency turun, conversion lag naik dari 1,4 hari ke 3,1 hari.

Strategi Migrasi: Tiga Lapis

Strategi disusun berlapis agar tidak bergantung satu solusi. Lapis pertama: penguatan first-party data via newsletter, akun pelanggan, dan loyalty program. Lapis kedua: server-side GTM plus Enhanced Conversions untuk capture konversi yang lolos dari client. Lapis ketiga: Protected Audience API untuk remarketing on-device di Chrome.

Lihat juga Attribution Reporting API yang kami pasang paralel untuk pengukuran konversi tanpa cookie.

Implementasi Protected Audience API

Tahap join interest group dipasang di halaman product detail dan add-to-cart. Tiap kunjungan men-trigger navigator.joinAdInterestGroup() dengan TTL 14 hari. Daily update via backend Next.js API route ke endpoint bidding signals server. Bidding worklet dibuat per kategori parfum (men, women, niche) agar segmentasi tetap presisi.

Iklan dirender di fenced frame yang isolated dari konteks halaman publisher. Kami pakai DSP yang sudah support Protected Audience API (Criteo plus RTB House) untuk eksekusi lelang on-device.

Hasil Terukur (10 Minggu Pasca-Migrasi)

MetrikPre-Cookie Mati (Des 2025)Post Cookie Mati Tanpa Aksi (Feb 2026)Pasca Migrasi (April 2026)
ROAS remarketing4,22,23,3
Audience size matched100 persen (base)35 persen71 persen
Conversion lag (hari)1,43,11,8
CPARp 78 ribuRp 152 ribuRp 94 ribu
Frequency rata-rata5,21,94,1

Total revenue remarketing pulih ke 76 persen dari baseline tanpa naikkan budget. Yang tidak pulih sepenuhnya: precision targeting niche kategori parfum tertentu masih turun karena Protected Audience API men-generalisasi interest group lebih luas dari cookie-based.

Pelajaran Penting

Pertama, first-party data adalah pondasi, bukan opsional. Newsletter Nalesha yang dulu sekunder kini jadi channel akuisisi langsung. Subscriber base tumbuh dari 8 ribu ke 31 ribu dalam 6 bulan.

Kedua, jangan tunggu deadline browser. Kami beruntung mulai persiapan 6 bulan sebelum cookie mati global. Tim yang baru mulai migrasi setelah cookie mati mengalami kerugian kompetitif besar.

Ketiga, ekspektasi realistis. Tidak ada solusi yang 100 persen menggantikan tracking cookie-era. 70-85 persen pemulihan ROAS adalah benchmark realistis berdasarkan studi industri seperti laporan IAB 2026.

Pertanyaan Umum

Apakah Protected Audience API hanya untuk Chrome?

Per Mei 2026, ya. Firefox dan Safari belum mengadopsi. Untuk audiens di luar Chrome, andalkan first-party data dan kontekstual targeting.

Apakah perlu ganti DSP?

Tidak selalu. DSP besar (Criteo, RTB House, Google DV360) sudah support. Tanya account manager DSP Anda untuk konfirmasi.

Berapa biaya implementasi?

Untuk skala Nalesha (rata-rata 12 ribu sesi per hari), biaya engineering sekitar 3-4 minggu dev time. Tidak ada cost lisensi API. Biaya tambahan datang dari upgrade DSP atau bidding signals server.

Apakah relevan untuk bisnis lokal kecil?

Kalau remarketing kontribusi minimal 15 persen revenue, ya. Untuk bisnis dengan budget iklan di bawah Rp 50 juta per bulan, fokus dulu di first-party data dan email marketing sebelum invest ke Protected Audience API.

Bagaimana mengukur kontribusi Protected Audience API secara terisolasi?

Pakai Attribution Reporting API yang menyediakan event-level dan summary reports cookie-less. Kombinasikan dengan [incrementality test](/glosarium/incrementality-test) bulanan.

Insight Aplikatif

Cookie pihak ketiga sudah mati. Bisnis Indonesia yang masih bergantung pada remarketing cookie-era akan melihat ROAS terus tergerus sepanjang 2026. Tiga aksi konkret: audit first-party data Anda bulan ini, evaluasi DSP support Privacy Sandbox dalam 30 hari, dan siapkan budget engineering 1 bulan untuk implementasi Protected Audience API plus Attribution Reporting API. Migrasi yang dilakukan hari ini lebih murah daripada recovery ROAS yang lebih sulit di kuartal berikutnya.

Bagikan

Artikel Terkait

#protected-audience-api#privacy-sandbox#nalesha#remarketing#roas

Butuh website yang benar-benar bekerja?

Hubungi Vito untuk konsultasi gratis 15 menit.

WhatsApp Sekarang