Digital Transformation
DAU/MAU Ratio (Stickiness)
DAU/MAU Ratio adalah perbandingan pengguna aktif harian (DAU) terhadap pengguna aktif bulanan (MAU), dipakai mengukur seberapa lengket atau sering produk digital dipakai pengguna.
TL;DR: DAU/MAU Ratio (sering disebut stickiness) adalah perbandingan jumlah pengguna aktif harian (DAU) dengan pengguna aktif bulanan (MAU). Rasio di atas 20 persen umumnya dianggap sehat untuk produk konsumen, sementara aplikasi sosial kelas atas bisa menyentuh 50 persen.
Apa itu DAU/MAU Ratio?
DAU/MAU mengukur seberapa sering pengguna kembali ke produk digital dalam sebulan. Rumusnya: DAU/MAU x 100 persen. Misal MAU 10.000 dan rata-rata DAU 2.000, stickiness 20 persen, artinya rata-rata pengguna aktif sekitar 6 hari per bulan. Metrik ini saling melengkapi dengan retention curve dan activation rate untuk membaca kesehatan produk.
Patokan Stickiness per Kategori
| Kategori produk | DAU/MAU sehat |
|---|---|
| Aplikasi sosial / messaging | 40-60 persen |
| Aplikasi finansial / banking | 15-25 persen |
| SaaS B2B | 20-30 persen |
| E-commerce konsumen | 5-15 persen |
| Aplikasi edukasi | 10-20 persen |
Kenapa Penting?
DAU/MAU yang tumbuh menandakan produk masuk ke kebiasaan harian pengguna, prasyarat untuk growth loop dan retensi jangka panjang. Untuk marketer SaaS Indonesia, rasio ini lebih informatif daripada total signup karena menyaring kebisingan kampanye akuisisi. Lacak via Mixpanel, Amplitude, atau dashboard custom di Supabase.
Pertanyaan Umum
Berapa stickiness yang dianggap baik?
Bergantung kategori. Riset Andreessen Horowitz menyebut produk konsumen elite menyentuh 50 persen, sementara untuk SaaS B2B angka 20 persen sudah termasuk solid.
Apakah stickiness bisa naik tanpa menambah pengguna baru?
Bisa. Tingkatkan habit melalui notifikasi yang relevan, aha moment yang lebih cepat tercapai, dan fitur harian seperti streak atau check-in.