Digital Marketing

Social Commerce

Vito Atmo
Vito Atmo·8 Juni 2026·0 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: Social commerce adalah model jual beli yang berlangsung penuh di dalam platform media sosial seperti TikTok, Instagram, atau Facebook. Pengguna menemukan, mempertimbangkan, dan membeli produk tanpa pindah ke situs lain. Di Indonesia, model ini tumbuh pesat karena perilaku belanja yang lekat dengan konten dan rekomendasi sosial.

Apa itu Social Commerce?

Social commerce adalah penyatuan antara konten sosial dan transaksi belanja dalam satu tempat. Alih-alih melihat iklan lalu diarahkan ke website terpisah, pengguna bisa langsung membeli di dalam aplikasi tempat mereka menghabiskan waktu. Bayangkan toko yang menyatu dengan feed: produk muncul di tengah konten yang sudah biasa Anda gulir.

Model ini berbeda dari e-commerce konvensional yang mengandalkan situs atau marketplace tersendiri. Di social commerce, customer journey berlangsung tanpa berpindah platform, sehingga gesekan menuju pembelian jadi lebih kecil. Faktor sosial seperti komentar dan ulasan juga berperan sebagai social proof yang mendorong keputusan.

Bentuk Social Commerce yang Umum

Beberapa format yang sering ditemui:

  • Live shopping: Penjual menyiarkan produk secara langsung sambil pembeli memesan real-time. Lihat live shopping.
  • Shoppable post: Konten foto atau video dengan tag produk yang bisa langsung dibeli.
  • Affiliate sosial: Kreator mempromosikan produk dan mendapat komisi, seperti pada funnel afiliasi TikTok Shop.
  • Chat commerce: Transaksi lewat percakapan, sering memakai WhatsApp Business API.

Kenapa Penting?

Bagi pebisnis dan marketer di Indonesia, social commerce penting karena memangkas jarak antara minat dan pembelian. Konsumen lokal terbiasa belanja sambil menonton konten, dan rekomendasi dari kreator sering lebih dipercaya ketimbang iklan langsung. Bagi UMKM, model ini menurunkan hambatan masuk karena tidak selalu butuh website sendiri untuk mulai berjualan, meski website tetap berguna sebagai aset jangka panjang yang Anda kendalikan penuh.

Pertanyaan Umum

Apa beda social commerce dan e-commerce biasa?

E-commerce biasa berpusat pada situs atau marketplace tersendiri. Social commerce menyatukan penemuan produk dan transaksi di dalam platform sosial, jadi pengguna tidak perlu berpindah aplikasi untuk membeli.

Apakah UMKM masih perlu website kalau sudah pakai social commerce?

Idealnya tetap perlu. Social commerce bagus untuk penemuan dan transaksi cepat, tapi website adalah aset yang Anda miliki penuh dan tidak bergantung pada perubahan algoritma platform.

Bagikan