Digital Marketing

Third-Party Cookie Deprecation

Vito Atmo
Vito Atmo·22 Juni 2026·0 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: Third-party cookie deprecation adalah penghentian bertahap dukungan cookie pihak ketiga oleh browser. Cookie ini dulu menopang pelacakan lintas situs, retargeting, dan atribusi iklan. Tanpanya, marketer beralih ke data pihak pertama, contextual advertising, dan solusi privasi-aman. Pergeseran ini sudah berlangsung di Safari dan Firefox sejak lama, dan terus berkembang di ekosistem Chrome.

Cookie pihak ketiga adalah berkas kecil yang dipasang oleh domain selain situs yang sedang Anda kunjungi, umumnya untuk iklan dan pelacakan lintas situs. Deprecation berarti browser berhenti mengizinkannya secara default. Akibatnya, kemampuan mengikuti pengguna dari satu situs ke situs lain menyusut drastis. Ini mempercepat peralihan ke first-party data sebagai fondasi marketing.

Dampak untuk Marketer

  • Retargeting lintas situs jadi kurang akurat
  • Atribusi multi-channel lebih sulit dilacak
  • Audience pihak ketiga (third-party audience) menyusut nilainya
  • Nilai data pelanggan langsung (email, perilaku di situs sendiri) naik

Pergeseran ini membuat pengukuran berbasis zero-click search dan sumber langsung makin penting, karena jejak lintas situs makin kabur.

Kenapa Penting?

Bagi bisnis di Indonesia yang mengandalkan iklan digital, perubahan ini menuntut strategi baru: kumpulkan data pihak pertama secara etis, perkuat email dan loyalitas, dan manfaatkan contextual targeting. Latar belakang kebijakan privasinya bisa dibaca di dokumentasi Privacy Sandbox Google. Yang bertahan adalah brand yang membangun hubungan langsung, bukan yang menyewa data orang lain.

Pertanyaan Umum

Tidak. Cookie pihak pertama (dipasang oleh situs yang Anda kunjungi) tetap berfungsi. Yang dibatasi adalah cookie pihak ketiga lintas situs.

Apa pengganti utamanya?

Data pihak pertama, contextual advertising, dan API privasi-aman yang dirancang untuk pengukuran tanpa identifikasi individu.

Bagikan