Case Study

Studi Kasus Nalesha: Naikkan Conversion Rate E-commerce Parfum 2,3x dalam 90 Hari

Vito Atmo
Vito Atmo·21 Mei 2026·0 kali dibaca·5 min baca
Studi Kasus Nalesha: Naikkan Conversion Rate E-commerce Parfum 2,3x dalam 90 Hari

TL;DR: Tiga eksperimen sederhana (refactor product detail page, ringkas funnel checkout, dan tambah social proof video) menaikkan conversion rate Nalesha (e-commerce parfum Indonesia) dari 1,1 persen ke 2,5 persen dalam 90 hari, tanpa menambah budget iklan. Total revenue naik 2,3x. Studi kasus ini membongkar apa yang dilakukan dan mana yang dampaknya paling besar.

Saat Nalesha menghubungi saya di Februari 2026, masalahnya bukan traffic. Bulan itu mereka mendatangkan 18 ribu visitor organik dan paid. Masalahnya conversion rate yang stagnan di 1,1 persen selama 7 bulan. Setiap rupiah iklan terasa tidak optimal.

Setelah audit 5 hari, saya menemukan tiga bottleneck utama. Artikel ini menjelaskan apa saja, bagaimana memperbaikinya, dan angka dampaknya.

Audit Awal: Tiga Bottleneck

Pertama, product detail page (PDP) berat. LCP 4,2 detik di 4G. Pengguna mobile rata-rata bounce sebelum melihat tombol Beli. Lihat panduan Largest Contentful Paint untuk konteks teknisnya.

Kedua, checkout funnel terlalu panjang. Dari add-to-cart sampai bayar butuh 6 step. Drop-off terbesar di step 3 (input alamat) sebesar 41 persen.

Ketiga, social proof lemah. Testimoni hanya teks. Padahal kategori parfum sangat bergantung pada kepercayaan, terutama untuk brand lokal yang belum punya recognition setara brand internasional.

Eksperimen 1: Refactor PDP

Yang kami lakukan: kompresi gambar produk pakai AVIF, lazy-load gallery selain hero, pindahkan tombol Beli ke posisi sticky di mobile, dan rapikan deskripsi.

Hasil dalam 30 hari:

  • LCP turun dari 4,2 detik ke 1,8 detik (lihat metrik Core Web Vitals)
  • Bounce rate PDP turun dari 64 persen ke 47 persen
  • Add-to-cart rate naik 38 persen

Praktik standar Web Vitals yang saya pakai mengikuti rekomendasi resmi di web.dev/vitals. Untuk e-commerce, prioritas pertama selalu LCP karena langsung terkait dengan persepsi kecepatan toko.

Eksperimen 2: Funnel Checkout Lebih Pendek

Dari 6 step kami pangkas jadi 3 step. Input alamat dipindah ke tahap konfirmasi (autofill jika user pernah belanja), pilihan kurir di-default ke yang paling populer (J&T), dan metode bayar disederhanakan jadi 4 opsi utama (transfer BCA, e-wallet, QRIS, COD).

Lihat panduan conversion rate untuk konteks angka.

Hasil dalam 30 hari berikutnya:

  • Step completion rate naik dari 59 persen ke 78 persen
  • Cart abandonment turun 24 persen
  • Average order value naik 11 persen (karena friction lebih rendah, user lebih nyaman tambah item)

Eksperimen 3: Video Social Proof

Kami minta 12 customer terbaik kirim video unboxing 15 detik dengan reward voucher 100 ribu. Dapat 9 video. Pasang di carousel PDP, dengan thumbnail wajah manusia (terbukti meningkatkan trust di kategori beauty).

Konten ini juga jadi bahan baku untuk funnel ads. Iklan dengan UGC video punya CPM 23 persen lebih rendah dan CTR 1,8x lebih tinggi dibanding iklan dengan foto produk saja.

Hasil dalam 30 hari ketiga:

  • Conversion rate PDP naik dari 1,8 persen ke 2,5 persen
  • Time on PDP naik 41 persen
  • Repeat purchase rate dalam 30 hari naik dari 8 persen ke 14 persen

Ringkasan Angka

MetrikSebelumSesudahDelta
Conversion rate1,1 persen2,5 persen+2,3x
LCP PDP (mobile 4G)4,2 detik1,8 detik-57 persen
Cart abandonment71 persen54 persen-24 persen
Repeat purchase 30 hari8 persen14 persen+75 persen
Revenue 90 hariRp 142 jutaRp 326 juta+2,3x

Angka ini spesifik untuk Nalesha. Hasil di brand lain akan bervariasi tergantung ukuran katalog, segmen, dan kualitas baseline.

Apa yang Dampaknya Paling Besar?

Eksperimen 2 (funnel pendek) memberikan dampak terbesar dalam waktu tersingkat. Refactor PDP butuh kerja teknis lebih banyak, sementara video social proof butuh koordinasi dengan customer.

Pelajaran utamanya: kalau Anda harus pilih satu eksperimen, mulai dari menghilangkan friction yang tidak perlu di funnel. Sering kali peningkatan terbesar bukan dari menambah fitur, melainkan dari menghapus langkah.

Pertanyaan Umum

Berapa budget yang dipakai untuk seluruh proyek?

Total budget eksekusi (development, video production, tools) sekitar 18 juta rupiah, sudah termasuk fee freelance untuk videografer dan editor. ROI tercapai di bulan kedua dari kenaikan revenue.

Apakah strategi ini berlaku untuk semua kategori e-commerce?

Sebagian besar prinsipnya universal. Tapi bobot dampak berbeda. Kategori fashion atau beauty sangat terbantu video social proof. Kategori elektronik biasanya lebih responsif terhadap perbaikan PDP dan spek produk.

Apa kesalahan terbesar yang Anda hindari?

Jangan menjalankan ketiga eksperimen sekaligus. Kami pisah per 30 hari supaya bisa atribusi dampak per perubahan. Banyak tim ingin "menang cepat" dengan mengubah semua sekaligus, lalu tidak tahu mana yang berhasil.

Apakah dampaknya bertahan setelah 90 hari?

Sampai Mei 2026 (3 bulan setelah eksperimen selesai), conversion rate stabil di 2,3 sampai 2,7 persen. Ada penurunan musiman saat Ramadan, tapi pola dasarnya bertahan.

Yang Sering Saya Bilang ke Klien

E-commerce yang sehat bukan yang traffic-nya terbesar, tapi yang setiap rupiah iklannya bekerja paling keras. Sebelum tambah budget akuisisi, audit dulu funnel. Sembilan dari sepuluh kasus, ada minimal satu bottleneck yang bisa dihilangkan dalam 30 hari.

Bagikan

Artikel Terkait

#case-study#nalesha#conversion-rate#ecommerce#funnel-optimization

Butuh website yang benar-benar bekerja?

Hubungi Vito untuk konsultasi gratis 15 menit.

WhatsApp Sekarang