Digital Marketing

Consent Revocation Rate

Vito Atmo
Vito Atmo·2 Juni 2026·0 kali dibaca·2 min baca

TL;DR: Consent Revocation Rate adalah persentase pengguna yang mencabut izin tracking setelah pernah memberikannya, dihitung pada jendela waktu tertentu (biasanya 30 hari). Angka di bawah 5 persen pada properti yang sehat. Lonjakan di atas 15 persen biasanya tanda banner consent terlalu agresif atau iklan retargeting terasa merembet.

Consent Revocation Rate adalah metrik privasi yang mengukur seberapa sering pengguna mencabut izin yang sebelumnya mereka berikan, baik untuk cookie analitik, iklan personalisasi, maupun email marketing. Berbeda dengan opt-out rate yang dihitung pada momen pertama banner muncul, metrik ini fokus pada churn izin pasca-konsen. Implementasinya umumnya tersambung ke Consent Management Platform dan dicatat di Consent Mode v2.

Cara Menghitung

Rumus dasarnya sederhana:

KomponenDefinisi
NumeratorJumlah pengguna yang mengubah status dari granted ke denied dalam periode
DenominatorJumlah pengguna dengan status granted pada awal periode
PeriodeUmumnya 30 hari rolling

Contoh: dari 10.000 pengguna yang sebelumnya granted, 320 berubah menjadi denied dalam 30 hari. Consent Revocation Rate = 3,2 persen.

Kenapa Penting?

Bagi marketer Indonesia, metrik ini relevan karena dua alasan. Pertama, PDP Indonesia menuntut audit jejak izin yang akuntabel, sehingga setiap pencabutan harus tercatat. Kedua, basis data pihak pertama yang menyusut diam-diam akan mengikis akurasi Conversion API dan model atribusi. Dalam beberapa proyek terakhir yang Vito Atmo tangani untuk e-commerce skala menengah, audit Consent Revocation Rate selama dua kuartal membantu menurunkan beban server-side tagging sekaligus memperbaiki rasio match Meta dari 58 persen ke 71 persen.

Pertanyaan Umum

Apa bedanya dengan opt-out rate?

Opt-out rate dihitung saat pengguna pertama kali melihat banner consent dan menolak. Consent Revocation Rate dihitung pada pengguna yang sebelumnya menyetujui kemudian mencabutnya.

Berapa angka sehat untuk e-commerce Indonesia?

Berdasarkan praktik di beberapa klien kategori D2C, angka 2 sampai 6 persen pada jendela 30 hari masih dianggap sehat. Lonjakan biasanya muncul setelah kampanye retargeting yang frekuensinya terlalu tinggi.

Bagikan